Bupati Garut Janji Bangun Jembatan Penghubung Karangpawitan-Banyuresmi

0
60

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut menjanjikan pembangunan jembatan di perbatasan Karangpawitan dan Banyuresmi dilakukan tahun ini. Janji tersebut disampaikan Bupati Garut Rudy Gunawan, saat meninjau langsung kondisi sungai yang berada di antara Kampung Pananggungan, Kelurahan Lengkong Jaya, Kecamatan Karangpawitan, dan Kampung Tegalkalapa, Desa Sukasenang, Kecamatan Banyuresmi.

Rudy Gunawan mengaku sangat prihatin dengan tak adanya jembatan penghubung di lokasi tersebut. “Mau tidak mau harus dilakukan (pembangunan jembatan). Walau hanya belasan anak yang menyebrang,” ucap Rudy Gunawan, Selasa 29 Januari 2019.

Dia menjelaskan, ketiadaan jembatan akan menjadi masalah di kemudian hari. Ia menegaskan, di zaman modern ini rakit tidak boleh dipakai warga sebagai sarana transportasi.

“Akses harus dibuka. Apalagi ada perumahan (rumah tapak korban banjir bandang) di Pananggungan. Kalau perlu dibangun jembatan yang bisa masuk mobil selebar 2,5 meter,” kata dia.

Bupati Garut Rudy Gunawan meninjau lokasi rakit yang sering digunakan para siswa menyebrangi Sungai Cimanuk untuk menuju ke sekolahnya, Desa Sukasenang, Kecamatan Banyuresmi.*/AEP HENDY/KP

Pemkab Garut, tambah Rudy Gunawan, akan melakukan kajian berdasarkan kajian yang dilakukan tersebut. Ia mengatakan, dalam seminggu ini, pihaknya akan menentukan bentuk jembatan yang akan dibangun.

“Apakah hanya jembatan rawayan atau jembatan yang lebih besar lagi. Kalau rawayan hanya bertahan tiga tahun. Jembatan biasa bisa 20 tahun,” ujarnya.

Rudy Gunawan mengatakan, pembangunan jembatan akan dilakukan pada bulan September, dengan menggunakan anggaran perubahan. “Saya sudah komitmen di 2023, tak ada rakit lagi. Semua harus pakai jembatan,” ucapnya.

Janji bupati itu disambut bahagia para murid yang sering menyebrang dengan rakit. Harapan Muhammad Dafa (11) dan teman-temannya bisa terwujud.

Apalagi selama lima tahun, Dafa setiap hari menggunakan rakit untuk menyebrang. “Nanti kalau ada jembatan bisa pakai sepeda ke sekolah. Sepatu enggak akan basah lagi,” ujar Dafa.

Jika hujan deras terjadi, Dafa tak harus memutar jalan yang berjarak hingga tiga kilometer. Adanya jembatan akan mempercepat akses jalan menuju sekolah dari rumahnya di Pananggungan.

“Takut juga kalau naik rakit terus. Apalagi kalau air lagi tinggi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Uu Saefudin mengatakan, besaran anggaran yang akan digelontorkan pemerintah daerah antara Rp 500 juta hingga Rp 2,5 miliar. “Jembatan akan dibangun, sifatnya semi permanen. Anggaran jembatan permanen itu Rp 2,5 miliar, karena sifatnya semi permanen, jadi di kisaran Rp 500 juta hingga Rp 2,5 miliar. Biayanya dari anggaran perubahan,” kata Uu.

SEJUMLAH siswa yang berdomisili di wilayah Kelurahan Lengkongjaya, Kecamatan Karangpawitan, terpaksa harus menempuh risiko setiap kali mau berangkat dan pulang sekolah. Mereka menggunakan rakit untuk menyebrangi Sungai Cimanuk agar bisa sampai ke sekolah yang berlokasi di Kampung Tegal Kalapa, Desa Sukasenang, Kecamatan Banyuresmi.

Menurut Uu, lokasi jembatan yang akan dibangun itu akan digeser dari lokasi para siswa sering menggunakan rakit. Tujuannya adalah agar jembatan dekat dengan akses Desa Sukasenang, Kecamatan Banyuresmi.

Diberitakan sebelumnya, sejumlah siswa di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Huda yang berasal dari Kampung Pananggungan, Kecamatan Karangpawitan, harus menggunakan rakit untuk bisa menyebrangi Sungai Cimanuk. Hal itu dilakukan lantaran sekolah mereka berada di seberang sungai, Desa Sukasenang, Kecamatan Banyuresmi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here